Ada satu lirik dari Barasuara dalam lagu Terbuang dalam Waktu yang belakangan ini sering terngiang:
“Kita kan tua dan kehilangan pegangan.”
Semakin ke sini, rasanya memang begitu. Bertambah umur, berkurang pegangan.
Bukan cuma soal uang, tapi juga arah, kepastian, dan kadang… alasan bangun pagi.
Tulisan ini bukan artikel keuangan, bukan pula panduan hidup ideal. Ini hanya catatan refleksi—tentang ritme hidup, cara bekerja, dan bagaimana keputusan kecil sehari-hari diam-diam memengaruhi kesehatan mental dan produktivitas kita.
Suatu pagi, sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula, saya mendengar berita bahwa hidup konsumtif tidak baik untuk kesehatan. Saya mengangguk setuju, refleks. Bahkan sempat nyeletuk, seperti orang yang paham teori, meski sering gagal praktik.
Anggukan itu berhenti ketika saya ingat harga kopi di tangan saya lima belas ribu rupiah, sementara isi dompet tinggal empat puluh ribu.
Di titik itu saya tersadar:
hidup konsumtif memang berbahaya bagi kesehatan — jika saldonya tidak cukup.
Bagi orang kaya, konsumtif mungkin disebut healing.
Bagi saya, itu disebut kesalahan perhitungan.
Atau meminjam istilah konsultan keuangan: bagaimana mau memanajemen sesuatu yang dari awal memang sudah sedikit?
Kalau bicara dampak kesehatan dari hidup konsumtif, yang sering muncul di headline adalah kolesterol, gula darah, atau tekanan darah.
Padahal yang lebih dulu kena justru bagian yang jarang dicek di laboratorium: kepala.
Pikiran jadi penuh, tapi tidak pernah kenyang.
Ada dorongan belanja kecil yang terasa menyenangkan sesaat (impulsive buying), lalu berganti rasa bersalah setelahnya. Polanya berulang, seperti lingkaran setan versi dompet tipis.
Dalam banyak tulisan psikologi populer, perilaku konsumtif sering dikaitkan dengan stres, kecemasan, dan kelelahan mental. Bukan karena barangnya, tapi karena relasi kita dengan uang dan kebutuhan menjadi tidak sehat.
Tubuh mungkin baik-baik saja, tapi pikiran sibuk menghitung sisa saldo sambil pura-pura tenang.
Di situ saya mulai berpikir, mungkin yang perlu diobati bukan gaya hidup, tapi ritmenya.
(Catatan ini berkaitan erat dengan bagaimana kita mengatur fokus, energi, dan beban mental dalam bekerja — hal yang sering luput dibahas saat bicara produktivitas.)
Tapi, tanpa kopi, kadang sulit bertemu eureka.
Bukan “eureka moment” ala ilmuwan ternama, tapi Eureka—anak Pak Bambang yang gemar bercocok tanam.
Pak Bambang punya kebun kecil di rumah, sawah yang masih ia urusi sendiri, dan peternakan ayam skala rumahan di belakang rumah. Eureka tumbuh di lingkungan itu.
Ia menanam bawang, tomat ceri, selada, juga beberapa sayur dan umbi seperti wortel. Telur ayam dikocok dengan bawang dan bumbu dapur, ditambah cabai—karena, ya, bukan orang Indonesia kalau makan tanpa pedas.
Makan nasi dengan telur dadar terasa sederhana, tapi hampir “gratis”. Bahkan sisa kulit wortel dan bawang tidak langsung dibuang. Ada saja yang bisa diolah, atau setidaknya dikembalikan ke tanah.
Di titik ini saya teringat kreator seperti Spicy Moustache, yang sering muncul di linimasa dengan dapur kecil dan prinsip besar: zero waste.
Ada juga Lauren Singer, Bea Johnson, hingga Kathryn Kellogg—yang menunjukkan bahwa hidup sadar bukan soal ekstrem, tapi soal pilihan kecil yang konsisten.
Di Indonesia, kanal seperti bbqmountainboys dari Jayagiri juga menunjukkan hal serupa: masak pelan, bahan dari kebun sendiri, tanpa tergesa-gesa dan tanpa embel-embel healing mahal.
Menontonnya justru terasa lebih menyehatkan daripada beberapa konten self-care yang ujung-ujungnya tetap konsumtif.
Semua itu membuat saya sadar:
tidak semua kebutuhan harus dibeli.
Dan ketika beberapa hal tidak dibeli, ada ruang—uang, energi, dan pikiran—yang bisa dialihkan ke hal lain yang lebih berguna. Tanpa merasa kekurangan.
Bukan soal menjadi hemat ekstrem, tapi soal merasa cukup.
Apalagi di tengah nilai uang yang terus tergerus, harga kebutuhan naik, dan realitas banyak generasi hari ini yang bahkan sulit membayangkan punya rumah.
Sebagai orang yang bekerja di bidang digital, saya juga merasakannya: perangkat makin mahal, tuntutan produktif tidak pernah turun.
Mungkin karena itu, hidup pelan bukan soal malas.
Kadang justru soal bertahan.
Di akhir tulisan ini, tentu saja Eureka bukan nama orang sungguhan. Ia hanya cara saya memberi wajah pada satu kebiasaan kecil: hidup yang pelan dan tidak berisik.
Karena barangkali, di tengah hidup yang semakin konsumtif, kita semua sedang mencari satu hal yang sama: pegangan.
Kalau tidak besar, setidaknya cukup untuk hari ini.
Kalau masih kurang, ya…
boleh pinjam seratus?
Blog Archive:
Desember : 2025
Instagram itu sederhana
November : 2025
Eat the Frog : cara ampuh hadapi penundaan
The Scream
Tentang Rasa Bosan
Trend Teknologi & pekerjaan 2025
Oktober : 2025
Tentang Softbank
10 skill yang paling dicari di Indonesia
Putus Asa, dan cara atasi
Uncertainty : tentang ketidakpastian
Internet ketika magang ke Jepang
Alasan perlu belajar instagram Marketing
Otak canggih tapi jiwa reptil