Mau Untung Jualan di TikTok Tapi Masih Bingung Mulainya?
Mau Untung Jualan di TikTok Tapi Masih Bingung Mulainya?
tiktok ads, belajar bareng, digital marketing
Sudah capek jualan, tapi penjualan terasa stagnan?
Konten sudah rutin, harga sudah ditekan, tapi hasilnya begitu-begitu saja?
Kalau iya, bisa jadi masalahnya bukan di produk, tapi di platform dan strategi pemasaran yang kamu gunakan. Dulunya saya juga begitu, dan setelah saya belajar di habiskerja dan menjadi salah satu affiliatornya, saya membuat website ini untuk bantu kamu upgrade diri biar bisa naik bareng.
Saat ini, persaingan di marketplace konvensional semakin padat. Biaya admin naik, perang harga makin tidak sehat, dan margin makin tipis. Alih-alih terus menurunkan harga, banyak pebisnis mulai beralih ke TikTok sebagai mesin penjualan baru yang lebih fleksibel dan potensial.
TikTok bukan lagi sekadar platform hiburan. Di 2026, TikTok telah berevolusi menjadi platform discovery + commerce, tempat orang menemukan produk sekaligus langsung membelinya.
Berikut beberapa alasan kenapa TikTok masih (dan akan terus) relevan sebagai kanal penjualan:
Berbeda dengan platform lain, TikTok tidak memprioritaskan akun besar saja. Konten dari akun baru tetap punya peluang viral selama relevan dan menarik. Ini membuat UMKM dan toko baru punya kesempatan yang adil untuk bersaing.
Mayoritas pengguna TikTok masuk untuk hiburan dan edukasi. Justru karena itu, ketika iklan dikemas seperti konten, tingkat penerimaan audiens jauh lebih tinggi dibanding iklan konvensional.
TikTok didominasi Gen Z dan Milenial kelompok dengan daya beli yang terus tumbuh. Di 2026, generasi ini semakin matang secara finansial dan lebih terbuka terhadap brand baru.
Komentar, live chat, stitch, duet, hingga live shopping menciptakan interaksi dua arah. Konsumen bisa bertanya langsung, melihat produk dipakai secara real-time, dan merasa lebih yakin sebelum membeli.
Dibandingkan platform iklan digital lain, TikTok Ads masih menawarkan cost per result yang relatif rendah, terutama jika strategi konten dan targeting tepat. Ini jadi peluang emas untuk UMKM dan pebisnis pemula.
Jumlah pengguna TikTok di Indonesia sudah menembus ratusan juta, dan kebiasaan konsumsi konten video pendek terus meningkat. Studi menunjukkan sebagian besar pengguna TikTok lebih suka menonton konten orang lain dibanding membuat konten sendiri.
Artinya?
➡️ Permintaan konten selalu lebih besar daripada penawaran
➡️ Pebisnis punya ruang luas untuk masuk dan mencuri perhatian
Ditambah lagi, fitur seperti TikTok Live Shopping, Video Shopping Ads, dan integrasi payment yang makin seamless membuat TikTok menjadi jalur konversi yang sangat kuat.
Pengalamanku mengelola TikTok Ads menunjukkan bahwa:
Targeting audiens semakin spesifik
Optimasi campaign semakin otomatis
Pemula bisa mulai dengan kurva belajar yang relatif cepat
Di TikTok, usia toko tidak menentukan hasil. Yang menentukan adalah:
Konten + Strategi Iklan + Konsistensi
Blog Archive:
Desember : 2025
Instagram itu sederhana
Bolos posting
Hidup Konsumtif Berbahaya
Produktif di Era Digital
November : 2025
Eat the Frog : cara ampuh hadapi penundaan
The Scream
Tentang Rasa Bosan
Trend Teknologi & pekerjaan 2025
Oktober : 2025
Tentang Softbank
10 skill yang paling dicari di Indonesia
Putus Asa, dan cara atasi
Uncertainty : tentang ketidakpastian
Internet ketika magang ke Jepang
Alasan perlu belajar instagram Marketing
Otak canggih tapi jiwa reptil
Dulu aku juga sempat percaya satu hal:
“Toko baru pasti kalah sama toko lama.”
Apalagi lihat TikTok yang isinya brand besar, seller lama, dan angka penjualan yang kelihatannya nggak masuk akal. Tapi setelah terjun langsung ke dunia TikTok Ads dan pegang beberapa campaign, aku sadar satu hal penting:
Di TikTok, usia toko bukan penentu. Strategi-lah yang menang.
Aku melihat sendiri banyak toko baru justru bisa ngebut penjualannya karena:
Kontennya relatable dan terasa “manusiawi”
Iklannya tepat sasaran, bukan asal boost
Live selling-nya aktif, responsif, dan interaktif
Dengan pendekatan yang benar, toko baru bukan cuma bisa jalan — tapi bisa langsung scale.
Materi yang aku bagikan dan pelajari selama ini bukan hasil copy-paste teori. Semua disusun dari pengalaman langsung mengelola iklan dan menaikkan omzet klien.
Dan yang sering disalahpahami banyak orang:
“Beriklan itu ribet dan harus jago IT.”
Padahal kenyataannya, kita cukup mulai dari dasar:
Memahami digital marketing
Paham desain visual
Bisa edit video sederhana, bahkan cukup dari HP
Yang penting bukan alatnya, tapi cara berpikir dan strateginya.
Di kelas ini, kamu akan belajar hal-hal praktis seperti:
✔ Cara mengejar ROAS hingga 5x
✔ Setup TikTok Pixel dengan benar
✔ Strategi Live Shopping Ads (LSA)
✔ Optimasi Video Shopping Ads (VSA)
✔ Pembuatan akun TikTok Ads & Business Manager
✔ Cara membaca data dan melakukan scaling iklan
✔ Peluang jadi freelancer TikTok Ads & cara dapat klien
✔ Studi kasus nyata + praktik langsung
Semua disesuaikan dengan kondisi TikTok Ads di 2026, bukan strategi usang.
Sebagai affiliator Habis Kerja, tugasku bukan cuma “jualan kelas”.
Aku ingin jadi penghubung buat kamu yang:
Capek perang harga
Bingung mulai jualan online
Ingin skill baru yang relevan
Mau punya peluang penghasilan tambahan dari digital skill
Lewat Habis Kerja, kamu nggak belajar sendirian.
Kamu diarahkan ke platform yang sudah tertata, punya sistem, dan fokus ke skill yang bisa langsung dipakai.
TikTok hari ini bukan sekadar aplikasi hiburan.
Ia adalah ekosistem pemasaran dan penjualan yang terus berkembang.
Kalau kamu ingin:
Berhenti adu murah
Menjangkau audiens baru
Membangun brand sekaligus penjualan
Maka belajar TikTok Ads dari sekarang adalah investasi penting untuk masa depan bisnismu.
Kalau kamu mau, kita bisa belajar bareng di sini.
Aku akan bantu arahkan kamu ke Habis Kerja, platform andalan untuk upgrade skill dan peluang baru.
Pelan-pelan tapi jalan.
Yang penting mulai.