Ketika Pekerjaan Sulit tampak Tidak Terlihat Sulit
Ketika Pekerjaan Sulit tampak Tidak Terlihat Sulit
Begitu syuuulit... lupakan... rehan... eh ga itu wei... Ada jenis pekerjaan yang hasilnya tidak bisa dipegang, tidak bisa dipajang, dan tidak selalu bisa dijelaskan dengan cepat. Digital analytics, coding, SEO, jasa konten—semuanya bekerja di balik layar. Tidak berisik, tidak mencolok, dan sering baru terasa dampaknya setelah waktu berlalu. Ironisnya, justru karena tidak terlihat itulah pekerjaan-pekerjaan ini kerap dianggap ringan.
Di banyak lingkungan, kerja masih diukur dari sesuatu yang kasat mata. Datang pagi, pulang sore, kelihatan sibuk. Sementara kerja digital sering berlangsung di depan layar, dalam diam, dengan hasil yang tidak langsung tampak. Ketika seseorang berkata “aku kerja di SEO” atau “aku ngurus data dan konten”, respons yang muncul sering datar. Tidak jarang disusul dengan anggapan bahwa pekerjaan itu mudah, bisa dipelajari siapa saja, atau sekadar main laptop.
Masalahnya bukan pada jenis pekerjaannya, tapi pada cara lingkungan memahami kerja.
Pekerjaan digital menuntut konsentrasi panjang, logika yang rapi, dan kemampuan membaca pola. Dalam digital analytics, seseorang harus memaknai angka, bukan sekadar mengumpulkannya. Dalam coding, kesalahan kecil bisa merusak sistem besar. Dalam SEO, hasil hari ini sering merupakan akumulasi keputusan berbulan-bulan lalu. Dalam jasa konten, kata-kata harus dipilih dengan sadar karena ia mewakili arah dan identitas.
Semua ini sulit dijelaskan dalam obrolan singkat. Tidak ada hasil instan yang bisa ditunjukkan. Akibatnya, lingkungan yang terbiasa menilai kerja dari aktivitas fisik atau kesibukan visual sering meremehkan proses yang tidak mereka lihat.
Kerja yang membutuhkan ketenangan justru sering dianggap santai.
Ada ironi lain yang lebih menyakitkan. Semakin teknis dan rumit sebuah pekerjaan, semakin besar jarak pemahaman dengan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena mereka jahat, tapi karena referensi mereka berbeda. Lingkungan yang tidak terbiasa dengan kerja berbasis sistem, data, dan logika digital cenderung menyederhanakan hal-hal yang tidak mereka pahami.
Akibatnya, muncul komentar seperti “masa gitu aja susah”, “kan tinggal posting”, atau “pakai tools aja, beres”. Kalimat-kalimat ini terdengar ringan, tapi efeknya berat. Ia menggerus rasa percaya diri, membuat pekerja digital meragukan nilai kerjanya sendiri.
Dalam jangka panjang, bukan hanya soal upah yang tidak sebanding, tapi juga soal martabat kerja yang perlahan terkikis.
Banyak pekerja digital berada di posisi serba tanggung. Di satu sisi, mereka dituntut hasil yang terukur. Di sisi lain, mereka hidup di lingkungan yang tidak punya alat ukur yang sama. Ketika hasil belum terlihat, kerja dianggap belum ada. Ketika hasil muncul, sering kali dianggap kebetulan.
Kondisi ini melelahkan karena pekerja harus bekerja dua kali. Pertama, menyelesaikan pekerjaan teknisnya. Kedua, menjelaskan dan membela nilai pekerjaannya sendiri. Tidak semua orang punya energi untuk terus-menerus membuktikan bahwa apa yang ia lakukan memang rumit dan layak dihargai.
Di sinilah banyak pekerja digital memilih diam. Bekerja sunyi, menerima seadanya, dan menyimpan frustrasi sendiri.
Masalah terbesar bukan pada lingkungan yang tidak mengerti, tapi ketika ketidakmengertian itu mulai memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Ketika kerja keras terasa tidak diakui, muncul godaan untuk menurunkan standar, menerima harga murah, atau menganggap apa yang kita lakukan memang tidak sepenting itu.
Padahal, kompleksitas tidak hilang hanya karena orang lain tidak melihatnya. Kerja tetap berat, meski tidak dianggap berat. Dan di sinilah pentingnya menjaga jarak antara nilai diri dan penilaian sekitar.
Tidak semua lingkungan bisa menjadi tempat validasi. Tidak semua orang perlu mengerti.
Bekerja di bidang yang tidak banyak dipahami menuntut kedewasaan tambahan. Kita perlu tahu kapan harus menjelaskan, dan kapan cukup bekerja. Kapan layak meluruskan, dan kapan lebih sehat untuk tidak berdebat. Tidak semua salah paham harus diluruskan, karena tidak semuanya datang dari niat buruk.
Dalam jangka panjang, penghargaan sering datang bukan dari lingkungan terdekat, tapi dari hasil yang konsisten dan orang-orang yang benar-benar membutuhkan kerja kita. Mereka yang merasakan dampaknya, meski tidak selalu bisa menjelaskannya.
Pekerjaan yang sulit tidak selalu akan terlihat sulit. Tapi ia tetap bernilai, bahkan ketika tidak banyak yang paham. Dan bagi mereka yang memilih bertahan di kerja sunyi ini, martabat tidak datang dari tepuk tangan, melainkan dari kesadaran bahwa apa yang dikerjakan memang tidak sederhana.