Di tengah ekonomi yang makin sempit, bertahan sering disalahartikan sebagai ketangguhan. Kalimat “lebih baik capek kerja daripada capek cari kerja” terdengar bijak, tapi jika diucapkan karena takut kehilangan penghasilan, maknanya berubah. Ia bukan lagi pilihan sadar, melainkan strategi bertahan hidup.
Fenomena ini dikenal sebagai job hugging: kondisi ketika seseorang tetap bertahan di pekerjaan yang sudah tidak sehat, bukan karena masih belajar atau berkembang, tapi karena dunia di luar terasa jauh lebih berbahaya.
Dalam situasi ideal, kerja adalah pertukaran yang setara. Tenaga dan waktu ditukar dengan upah dan perlindungan. Tapi ketika lapangan kerja menyempit, keseimbangan itu runtuh. Pekerja bertahan bukan karena dihargai, melainkan karena takut jatuh ke jurang pengangguran yang tak jelas ujungnya.
Data ketenagakerjaan menunjukkan mayoritas tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal. Jumlahnya bukan hanya besar, tapi terus bertambah. Artinya, semakin banyak orang bekerja tanpa jaminan, tanpa kontrak jelas, dan tanpa perlindungan memadai. Dalam kondisi seperti ini, rasa aman menjadi ilusi. Ada penghasilan hari ini, tapi tidak ada kepastian besok.
Ironisnya, rasa aman semu inilah yang sering dipeluk erat.
Job hugging menciptakan celah. Ketika pekerja tidak punya pilihan, daya tawarnya melemah. Beban kerja bisa dinaikkan tanpa diskusi. Target diperberat tanpa kompensasi. Jam kerja memanjang tanpa perlindungan. Semua dibungkus dengan narasi “syukur masih punya kerja”.
Di sektor gig dan pekerjaan berbasis platform, pola ini terlihat jelas. Pendapatan fluktuatif, kebijakan bisa berubah sepihak, dan risiko kerja sepenuhnya ditanggung pekerja. Ketika protes muncul, responsnya sering dingin atau menghindar. Sistem tahu: selalu ada orang lain yang siap menggantikan.
Loyalitas yang lahir dari ketakutan bukan loyalitas. Ia hanya keterpaksaan yang disamarkan.
Semakin lama seseorang bertahan dalam kondisi seperti ini, semakin sempit ruang geraknya. Energi habis untuk bertahan, bukan berkembang. Waktu tersedot oleh kerja yang menguras fisik dan mental. Keinginan belajar keterampilan baru pelan-pelan mati, bukan karena malas, tapi karena tidak ada sisa tenaga.
Penghasilan yang pas-pasan hanya cukup untuk hari ini. Tidak ada ruang untuk investasi pendidikan, apalagi mengambil risiko pindah arah. Akhirnya, seseorang terjebak di tempat yang sama, dengan posisi tawar yang makin lemah.
Ini bukan kegagalan individu. Ini jebakan sistemik.
Yang lebih berbahaya, kelelahan kronis sering dianggap wajar. Capek dianggap bukti kerja keras. Stres dianggap bagian dari proses. Dalam budaya seperti ini, burnout tidak diakui sebagai masalah, melainkan sebagai konsekuensi yang harus diterima.
Padahal kelelahan mental yang terus-menerus justru menggerus kemampuan berpikir jernih. Orang menjadi reaktif, bukan reflektif. Bertahan bukan karena yakin, tapi karena terlalu lelah untuk berpikir alternatif.
Lalu muncul kekhawatiran baru: apakah teknologi, terutama AI, ikut menurunkan kemampuan kognitif manusia? Pertanyaannya sah, tapi jawabannya tidak sesederhana itu. AI tidak otomatis membuat manusia tumpul. Yang membuat tumpul adalah cara kita menggunakannya.
Jika AI dipakai sebagai alat bantu berpikir—mempercepat riset, merapikan ide, membuka sudut pandang—ia justru memperluas kapasitas manusia. Tapi jika ia dipakai untuk menggantikan berpikir, keputusan tetap ada pada penggunanya.
Masalahnya bukan pada mesinnya, tapi pada sistem yang mengeksploitasi manusia dan mesin sekaligus. Teknologi dijadikan alat efisiensi ekstrem, sementara manusianya diperas lebih jauh. Dan ya, hidup di negara +62 versi KONOHA membuat persoalan ini terasa lebih telanjang—perlindungan minim, regulasi tertinggal, dan pekerja diminta adaptif tanpa jaring pengaman.
Job hugging bukan tanda kelemahan personal. Ia cermin kondisi ekonomi dan kebijakan yang belum berpihak. Tapi jika terus dinormalisasi, ia akan menjadi ladang subur bagi eksploitasi yang lebih dalam.
Bertahan boleh. Tak semua orang punya kemewahan untuk pergi. Tapi menganggap kondisi ini wajar adalah masalah. Kita perlu berhenti memuja ketahanan yang lahir dari keterpaksaan, dan mulai membicarakan perlindungan, daya tawar, serta ruang aman untuk berpindah arah.
Karena kerja seharusnya memberi hidup, bukan sekadar menunda kehancuran.
Ironisnya, di tengah ketakutan pada mesin, kita lupa bercermin. Mesin bekerja sesuai perintah. Ia tidak tahu siapa yang kelelahan, tidak paham siapa yang terdesak kebutuhan. Jika ia menekan, itu karena ada manusia yang menyetelnya begitu.
Sementara manusia tahu persis dampaknya. Tahu bahwa beban kerja sudah melewati batas. Tahu bahwa upah tidak sebanding. Tahu bahwa “bertahan” sering berarti tidak punya pilihan. Tapi tetap memilih melanjutkan sistem itu karena efisien, menguntungkan, dan rapi di laporan.
Dalam situasi job hugging, mesin bahkan bisa terlihat lebih manusiawi. Ia berhenti ketika dimatikan. Ia tidak memaksa dirinya terus berjalan atas nama loyalitas. Manusia justru diminta bertahan tanpa henti, sambil diyakinkan bahwa itu adalah ketangguhan.
Ketika eksploitasi dibungkus dengan narasi syukur dan rasa aman, yang bekerja bukan lagi logika, tapi ketakutan. Dan di titik itu, yang paling dingin bukan teknologi melainkan keputusan manusia yang memilih menutup mata.
Mungkin masalah terbesar hari ini bukan soal mesin yang terlalu pintar, tapi manusia yang terlalu lama menormalisasi ketidakmanusiawian.