Ketika Pencari Kerja Berhenti Mencari: Wajah Pengangguran di Indonesia
Ketika Pencari Kerja Berhenti Mencari: Wajah Pengangguran di Indonesia
Ada jenis pengangguran yang jarang dibicarakan dengan serius. Ia tidak berdiri di depan kamera. Ia tidak selalu ikut dalam antrean panjang job fair. Ia tidak lagi mengirim lamaran setiap minggu. Ia tidak lagi memperbarui CV. Ia tidak lagi membuka situs lowongan setiap pagi.
Ia berhenti.
Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah warga Indonesia yang dikategorikan sebagai “putus asa mencari kerja” meningkat tajam. Jika pada 2019 jumlahnya sekitar 883 ribu orang, pada 2024 angka itu melonjak menjadi 2,7 juta orang. Kenaikannya bukan sekadar bertambah—tetapi lebih dari tiga kali lipat dalam rentang lima tahun.
Angka ini sering luput dari perhatian karena mereka tidak lagi dihitung sebagai pengangguran aktif. Mereka tidak lagi masuk kategori pencari kerja. Mereka secara teknis “tidak mencari”. Dan karena itu, mereka tidak selalu terlihat dalam headline besar tentang tingkat pengangguran terbuka.
Padahal, di balik angka 2,7 juta itu ada jutaan cerita tentang lamaran yang tak pernah dibalas, wawancara yang tak pernah ditindaklanjuti, dan harapan yang pelan-pelan digerus waktu.
Dalam periode yang sama, jumlah orang yang aktif mencari kerja juga meningkat. Pada 2019 tercatat sekitar 7,8 juta orang yang sedang mencari pekerjaan. Pada 2024, jumlah itu naik menjadi 11,7 juta orang.
Artinya, persaingan semakin padat. Antrean semakin panjang. Kesempatan terasa semakin sempit.
Di tengah antrean itu, sebagian orang memilih—atau terpaksa memilih—keluar dari barisan. Bukan karena sudah mendapatkan pekerjaan. Tapi karena kelelahan. Karena merasa peluang yang tersedia tidak lagi realistis. Karena merasa waktu dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diterima.
Putus asa tidak datang dalam satu malam. Ia biasanya tumbuh perlahan. Dimulai dari optimisme, lalu berubah menjadi kesabaran, lalu menjadi kekhawatiran, lalu menjadi keraguan. Sampai akhirnya seseorang berkata pada dirinya sendiri: mungkin memang tidak ada tempat untuk saya di sini.
Data menunjukkan bahwa kelompok dengan pendidikan rendah masih mendominasi kategori ini. Lulusan SD atau yang tidak tamat SD menyumbang proporsi terbesar. Namun yang menarik, peningkatan signifikan juga terjadi pada lulusan SMA dan bahkan perguruan tinggi.
Artinya, fenomena ini tidak lagi bisa disederhanakan sebagai persoalan “kurang pendidikan”. Ketika lulusan SMA dan sarjana juga mulai masuk kategori putus asa, ada ketidakseimbangan yang lebih luas antara jumlah lulusan dan kemampuan ekonomi menyerap tenaga kerja.
Bahkan dalam data terbaru Februari 2025, jumlah warga yang tidak bekerja dan tidak mencari kerja karena putus asa mencapai sekitar 1,85 juta orang—naik sekitar 11 persen dibanding Februari tahun sebelumnya. Kenaikan dua digit dalam satu tahun menunjukkan ada pergeseran psikologis dan struktural yang nyata.
Menariknya lagi, mayoritas dari mereka kini berada di wilayah perkotaan. Jika pada 2019 desa menjadi wilayah dominan, kini kota menyimpan lebih banyak keputusasaan. Kota yang selama ini dipersepsikan sebagai pusat peluang justru menjadi ruang dengan tekanan kompetisi paling tinggi.
Di sana, setiap lowongan bisa diisi ratusan pelamar. Setiap posisi entry-level bisa diperebutkan oleh lulusan baru dan pekerja berpengalaman sekaligus. Dan usia, yang seharusnya menjadi proses alamiah, berubah menjadi batas yang menakutkan.
Dalam beberapa tahun terakhir, publik juga mendengar target besar penciptaan 19 juta lapangan kerja sebagai bagian dari agenda pembangunan. Angka itu terdengar menjanjikan. Ia membawa harapan bahwa pertumbuhan ekonomi akan membuka ruang bagi generasi produktif.
Namun di lapangan, realitasnya lebih kompleks.
Sementara target diumumkan dan kalender terus bergerak—Februari 2016 pernah diingat dengan perayaan Imlek pada tanggal 17, Ramadan yang datang di tahun-tahun berikutnya membawa ritme baru kehidupan sosial—bagi sebagian orang, waktu terasa stagnan. Hari-hari tetap berjalan, tapi peluang terasa tetap di tempat.
Janji penciptaan lapangan kerja adalah visi makro. Sementara pengalaman pencari kerja adalah realitas mikro yang sangat personal. Ketika visi dan realitas itu tidak bertemu, jaraknya terasa sangat jauh.
Fenomena ini tidak hanya dialami anak muda. Data menunjukkan Generasi X dan kelompok usia lebih tua justru menyumbang porsi terbesar dalam kategori putus asa, disusul milenial dan Generasi Z.
Yang muda kesulitan masuk karena kurang pengalaman.
Yang lebih tua kesulitan bertahan karena dianggap kurang relevan atau terlalu mahal.
Di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan industri yang cepat, banyak orang merasa tertinggal. Ketika reskilling dan upskilling tidak selalu mudah diakses, adaptasi menjadi beban pribadi, bukan tanggung jawab sistem.
Ketika seseorang berhenti mencari kerja, yang berhenti bukan hanya aktivitas ekonomi. Ada yang ikut tergerus: rasa percaya diri, rasa percaya pada sistem, bahkan rasa percaya bahwa usaha selalu berbanding lurus dengan hasil.
Angka 2,7 juta mungkin terlihat kecil dibanding total angkatan kerja nasional. Namun secara sosial, itu adalah jutaan individu yang merasa tidak lagi punya ruang.
Putus asa adalah bentuk pengangguran paling sunyi. Ia tidak berteriak. Ia tidak menuntut. Ia tidak selalu turun ke jalan. Ia hanya diam.
Dan ketika diam itu berlangsung terlalu lama, kita perlu bertanya: apakah masalahnya hanya pada individu yang menyerah, atau pada struktur yang membuat terlalu banyak orang merasa tidak lagi dibutuhkan?
Karena pada akhirnya, persoalannya bukan hanya tentang pekerjaan.
Ia tentang rasa memiliki tempat.
Tentang merasa berguna.
Tentang percaya bahwa masa depan masih mungkin diperjuangkan.
Dan ketika jutaan orang berhenti percaya, itu bukan sekadar angka statistik. Itu adalah cermin tentang arah ekonomi dan harapan sosial sebuah bangsa.