Ketika Hidup Terasa Semakin Sempit: Bekerja Lebih Keras, Tapi Nafas Ekonomi Tetap Pendek
Ketika Hidup Terasa Semakin Sempit: Bekerja Lebih Keras, Tapi Nafas Ekonomi Tetap Pendek
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak orang merasakan hal yang sama: bekerja lebih keras, tetapi hidup terasa tidak semakin longgar. Penghasilan mungkin masih datang setiap bulan, pekerjaan masih ada, dan aktivitas tetap berjalan seperti biasa. Namun di balik rutinitas yang tampak normal itu, banyak orang merasakan tekanan yang sulit dijelaskan. Bukan sekadar soal angka inflasi atau harga barang yang naik, tetapi tentang perasaan bahwa ruang hidup ekonomi perlahan menyempit. Gaji terasa cukup hanya untuk bertahan, bukan untuk berkembang. Banyak keluarga mulai menunda rencana besar—membeli rumah, membuka usaha, bahkan sekadar berlibur—karena masa depan terasa semakin tidak pasti.
Fenomena ini sering disebut sebagai economic squeeze, atau himpitan ekonomi. Bukan kondisi krisis yang tiba-tiba menghancurkan semuanya, tetapi tekanan yang perlahan menumpuk dari berbagai arah. Harga kebutuhan pokok meningkat, biaya pendidikan naik, cicilan rumah atau kendaraan tetap berjalan, sementara pertumbuhan pendapatan tidak selalu mampu mengejar kenaikan biaya hidup. Dalam situasi seperti ini, banyak orang mulai mengandalkan tabungan untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Bahkan kelompok yang dulu merasa cukup aman secara finansial kini mulai merasakan tekanan yang sama. Di Indonesia, jumlah kelas menengah misalnya tercatat menurun dari sekitar 57 juta orang pada 2019 menjadi sekitar 47 juta pada 2024, menunjukkan semakin banyak orang yang terdorong keluar dari zona ekonomi yang relatif stabil.
Pertumbuhan ekonomi
Tekanan ini semakin terasa karena struktur pekerjaan juga ikut berubah. Pertumbuhan ekonomi memang masih terjadi, tetapi banyak pekerjaan baru muncul di sektor dengan nilai tambah yang relatif rendah atau tanpa kepastian jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pekerja masuk ke sektor informal atau pekerjaan berbasis proyek dan aplikasi digital. Sektor ini memang menyerap tenaga kerja, tetapi sering kali tidak memberikan stabilitas pendapatan yang kuat. Data menunjukkan lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia berada di sektor informal, yang biasanya tidak memiliki perlindungan kerja atau jaminan sosial yang memadai.
Akibatnya, muncul situasi yang terasa paradoks. Secara statistik, seseorang mungkin dianggap bekerja dan produktif. Namun secara ekonomi, kehidupan mereka tetap terasa rapuh. Pekerjaan ada, tetapi tidak selalu memberikan rasa aman. Banyak orang bekerja lebih lama, mengambil pekerjaan tambahan, atau mencoba berbagai peluang sampingan hanya untuk menjaga stabilitas keuangan. Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin berhasil. Tetapi dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menciptakan kelelahan sosial—situasi di mana masyarakat terus bergerak, tetapi merasa tidak benar-benar maju.
Tekanan ekonomi ini juga memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Ketika daya beli menurun, pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok biasanya menjadi yang pertama dikurangi. Banyak orang mulai menahan diri untuk membeli barang baru, mengurangi hiburan, atau menunda rencana besar seperti renovasi rumah atau pendidikan lanjutan. Bahkan dalam beberapa penelitian ekonomi, meningkatnya porsi pengeluaran untuk kebutuhan pangan sering dianggap sebagai tanda melemahnya daya beli masyarakat. Ketika sebagian besar pendapatan habis untuk kebutuhan dasar, ruang untuk investasi masa depan menjadi semakin sempit.
Di tingkat makro, ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan sekitar lima persen per tahun. Namun pertumbuhan ini tidak selalu dirasakan secara merata oleh masyarakat. Dalam banyak kasus, pertumbuhan ekonomi menciptakan aktivitas baru tetapi tidak selalu menghasilkan pekerjaan dengan upah yang cukup tinggi untuk menopang kehidupan kelas menengah. Dalam laporan ekonomi global, bahkan disebutkan bahwa meskipun lapangan kerja terus bertambah, banyak pekerjaan baru yang tidak mampu memberikan pendapatan setara dengan standar hidup kelas menengah.
Kondisi ini membuat banyak orang merasa terjebak di tengah. Mereka tidak cukup miskin untuk mendapatkan bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup stabil untuk merasa aman secara finansial. Dalam percakapan sehari-hari, muncul berbagai ungkapan yang menggambarkan situasi ini: bekerja keras tapi tetap pas-pasan, gaji naik tapi harga barang lebih cepat naik, atau hidup terasa seperti terus berlari di tempat. Perasaan ini bukan sekadar keluhan individu, melainkan refleksi dari perubahan struktur ekonomi yang lebih luas.
Namun di tengah tekanan ini, muncul pula perubahan sikap dalam masyarakat. Banyak orang mulai lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan, lebih selektif dalam pengeluaran, dan mulai belajar tentang literasi finansial. Kesadaran untuk mengatur anggaran, menabung, atau berinvestasi perlahan meningkat. Dalam beberapa survei nasional, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia bahkan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Adaptasi
Perubahan ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan ekonomi nyata, masyarakat juga mulai beradaptasi dengan cara yang berbeda. Sebagian orang mencari sumber pendapatan tambahan, sebagian lainnya berusaha meningkatkan keterampilan agar lebih kompetitif di pasar kerja. Ada juga yang mulai membangun usaha kecil atau memanfaatkan peluang ekonomi digital. Adaptasi ini mungkin tidak langsung menghilangkan tekanan, tetapi setidaknya membuka kemungkinan baru untuk bertahan dan berkembang.
Pada akhirnya, himpitan ekonomi bukan hanya tentang angka di laporan statistik. Ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari: apakah harus menunda membeli sesuatu, apakah perlu mencari pekerjaan tambahan, atau apakah masih mungkin merencanakan masa depan yang lebih stabil. Di balik semua itu, masyarakat sedang belajar menghadapi realitas ekonomi yang semakin kompleks.
Karena bagi banyak orang hari ini, tantangannya bukan lagi sekadar bekerja. Tantangannya adalah bagaimana tetap bertahan, berkembang, dan menjaga harapan di tengah ruang ekonomi yang terasa semakin sempit.