The Squeeze: Ketika Himpitan Ekonomi Tidak Lagi Sekadar Angka, Tapi Tekanan demi tekanan!
The Squeeze: Ketika Himpitan Ekonomi Tidak Lagi Sekadar Angka, Tapi Tekanan demi tekanan!
Awal 2026 tidak ditandai dengan krisis besar yang dramatis atau keruntuhan pasar yang spektakuler. Tidak ada satu peristiwa tunggal yang membuat orang panik berlarian. Namun anehnya, banyak orang merasa hidupnya semakin berat. Bukan karena tiba-tiba kehilangan pekerjaan, bukan pula karena usaha bangkrut seketika. Tapi karena ada tekanan yang pelan, konsisten, dan terasa dari banyak arah sekaligus. Tekanan yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan grafik, tetapi sangat terasa di meja makan, di notifikasi tagihan, dan di percakapan keluarga yang makin sering diwarnai kekhawatiran. Orang-orang mulai menyebut fenomena ini sebagai The Squeeze—himpitan ekonomi yang membuat ruang gerak terasa makin sempit, meski dari luar semuanya tampak “baik-baik saja”.
Salah satu perdebatan paling panas muncul dari dilema yang sering diringkas dengan kalimat sederhana: makan siang vs pajak. Di satu sisi, pemerintah menggulirkan program bantuan sosial berskala besar, termasuk program makan bergizi gratis yang digadang-gadang sebagai investasi jangka panjang untuk generasi masa depan. Secara moral, sulit menolak ide bahwa anak-anak harus mendapat asupan layak. Namun di sisi lain, muncul wacana kenaikan tarif pajak dan perluasan objek pajak, termasuk pembahasan PPN 12 persen yang menjadi bahan diskusi luas. Di ruang publik, banyak orang merasa berada dalam situasi paradoks: negara hadir memberi bantuan, tetapi di saat yang sama menarik lebih banyak dari kantong masyarakat. Bukan berarti masyarakat anti-pajak atau anti-program sosial, tetapi muncul perasaan kontradiktif—seolah-olah bantuan yang diterima tidak benar-benar mengurangi tekanan karena di sisi lain beban juga bertambah. Perasaan “diberi di tangan kanan, diambil di tangan kiri” ini menciptakan kegelisahan yang tidak mudah diredam oleh penjelasan teknis fiskal.
The Middle
Di tengah perdebatan itu, ada kelompok yang jarang terdengar suaranya secara emosional, yakni kelas menengah yang perlahan tergerus. Mereka bukan kategori miskin, sehingga tidak memenuhi syarat bantuan sosial. Namun mereka juga tidak cukup kaya untuk kebal terhadap kenaikan harga dan biaya hidup. Mereka adalah pegawai tetap, profesional muda, pelaku usaha kecil yang dulu merasa aman karena punya tabungan dan penghasilan stabil. Kini banyak dari mereka mulai menggunakan simpanan untuk menutup kebutuhan rutin—fenomena yang dikenal sebagai dissaving. Ini bukan cerita jatuh miskin dalam semalam, melainkan cerita pelan-pelan turun level tanpa terasa. Yang paling menyakitkan bukan sekadar angka tabungan yang menyusut, tetapi hilangnya rasa aman yang dulu menjadi penopang psikologis. Ketika dana darurat mulai terpakai untuk belanja bulanan, ada perasaan bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
Sementara itu, angka pengangguran mungkin terlihat terkendali di atas kertas, tetapi kualitas pekerjaan menjadi pertanyaan besar. Lapangan kerja formal dengan kontrak tetap dan jaminan sosial yang kuat terasa makin sulit ditemukan. Banyak pekerjaan baru hadir dalam bentuk gig economy—kurir, ojek online, freelance, pekerja berbasis proyek—yang menawarkan fleksibilitas sekaligus ketidakpastian. Pendapatan bisa tinggi di satu bulan, lalu turun drastis di bulan berikutnya. Tidak ada jaminan kesehatan yang memadai, tidak ada kepastian pensiun yang jelas. Orang bekerja lebih lama, bahkan lebih keras, tetapi tidak merasa lebih aman. Jam kerja panjang menjadi normal, sementara kepastian hidup justru makin tipis. Dalam kondisi seperti ini, bekerja bukan lagi simbol stabilitas, melainkan perjuangan harian untuk menjaga agar roda tetap berputar.
Tekanan lain yang paling nyata terasa di dapur rumah tangga adalah harga pangan yanag seperti menemukan “normal baru” yang lebih tinggi. Dulu kenaikan harga dianggap musiman—naik menjelang hari besar, lalu turun kembali. Kini banyak orang merasa harga beras, daging, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya tidak benar-benar kembali ke titik lama. Uang 100 ribu rupiah yang dulu terasa cukup untuk banyak barang, sekarang terasa cepat habis. Belanja bukan lagi soal memilih merek atau kualitas premium, tetapi soal memastikan semua kebutuhan dasar terpenuhi. Percakapan di pasar dan grup keluarga sering kali bukan lagi soal promo menarik, melainkan strategi mengakali agar pengeluaran tidak membengkak. Stres finansial yang muncul bukan karena gaya hidup mewah, melainkan karena kebutuhan dasar yang terus menekan.
Perubahan ini juga tercermin dalam budaya media sosial. Jika beberapa tahun lalu linimasa dipenuhi flexing—pamer pencapaian, liburan, gadget terbaru—kini narasinya bergeser ke arah frugal living dan tips bertahan hidup. Orang berbagi cara menghemat listrik, berburu diskon, atau menghentikan langganan streaming. Self-reward yang dulu dianggap bagian dari keseimbangan hidup mulai dikurangi, bukan karena orang tidak ingin menikmati hidup, tetapi karena ruangnya makin sempit. Rencana menikah ditunda, membeli rumah terasa makin jauh karena bunga KPR yang mencekik, dan mimpi memiliki properti sering berubah menjadi sekadar bertahan di kontrakan yang sama. Ada pergeseran psikologis dari optimisme konsumtif ke kewaspadaan defensif.
Jika dirangkum, himpitan ini bukan hanya tentang uang, tetapi tentang rasa kehilangan kendali. Ketika bekerja keras tidak otomatis membuat hidup lebih stabil, ketika taat membayar pajak tidak otomatis membuat hati lebih tenang, ketika menabung tidak lagi terasa cukup untuk menghadapi masa depan, maka yang terkikis bukan hanya saldo rekening, tetapi rasa percaya diri kolektif. Orang mulai mempertanyakan arah, mempertanyakan sistem, bahkan mempertanyakan keputusan hidupnya sendiri. Ada yang merespons dengan sinisme, ada yang memilih diam dan menahan, ada pula yang berusaha beradaptasi dengan strategi baru. Namun di balik semua reaksi itu, ada benang merah yang sama: kelelahan.
Kesadaran memperhitungkan menjadi perlu
The Squeeze bukanlah kiamat ekonomi, tetapi ia adalah peringatan bahwa stabilitas tidak lagi bisa diasumsikan. Kelas menengah tidak kebal, pekerja tidak otomatis aman, dan pertumbuhan ekonomi tidak selalu berarti kesejahteraan merata. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dipaksa menjadi lebih sadar, lebih berhitung, dan mungkin lebih realistis. Himpitan ini menyakitkan, tetapi ia juga membuka ruang refleksi tentang bagaimana kita memaknai kerja, konsumsi, dan masa depan. Mungkin yang paling berat bukanlah kekurangan materi semata, melainkan ketidakpastian yang membuat orang sulit merencanakan hidup dengan tenang.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah ekonomi akan membaik atau tidak, tetapi bagaimana kita sebagai individu dan sebagai bangsa merespons tekanan ini. Apakah kita akan terus terjebak dalam rasa terhimpit tanpa arah, atau mulai membangun strategi yang lebih adaptif dan berkelanjutan? Karena dalam banyak kasus, yang membuat manusia paling lelah bukan sekadar kekurangan uang, tetapi perasaan bahwa apa pun yang dilakukan terasa tidak cukup. Dan ketika perasaan itu menjadi kolektif, ia berubah menjadi narasi zaman—narasi tentang himpitan yang tidak terlihat, tetapi sangat nyata di dada banyak orang.