Ada satu kalimat yang makin sering terdengar belakangan ini.
Pendek. Pelan. Kadang diawali senyum kaku, atau basa basi yang terdengar sudah basi dan mudah ditebak.
“Boleh pinjem seratus?”
Bukan satu juta.
Bukan lima ratus ribu.
Cuma seratus.
Justru karena “cuma”, kalimat ini sering dianggap remeh. Padahal kalau ditarik agak jauh, ini bukan sekadar soal uang receh, tapi indikator ekonomi yang lagi batuk-batuk.
Belakangan ini, kita sering dengar kabar soal deflasi. Kata yang terdengar canggih dan adem. Harga turun, katanya. Harusnya kabar baik. Tapi anehnya, dompet justru makin sering sesak.
Data nasional menunjukkan harga beberapa kebutuhan memang melandai, tapi di saat yang sama daya beli rumah tangga ikut melemah. Orang bukan belanja karena barang mahal, tapi karena takut besok uangnya nggak ada.
Uang ada. Tapi ditahan.
Diparkir.
Dipeluk erat-erat.
Di atas kertas, inflasi jinak. Di lapangan, banyak orang hidup di mode irit permanen.
Dampaknya paling terasa ke siapa?
Ya ke mereka yang hidupnya bergantung pada perputaran harian: freelancer dan UMKM.
Pekerja lepas kehilangan proyek bukan karena skill-nya amblas, tapi karena klien mendadak hobi bilang, “kita hold dulu ya.”
UMKM bukan kalah saing, tapi kalah napas. Toko masih buka, barang masih ada, tapi pembeli datang cuma buat lihat-lihat dan bilang, “nanti balik lagi ya.”
Menurut data ketenagakerjaan, jumlah pekerja informal di negeri ini masih mendominasi. Lebih dari separuh angkatan kerja hidup tanpa gaji bulanan tetap. Artinya, mayoritas orang Indonesia hidup dari uang yang harus terus bergerak. Begitu berhenti sedikit saja, langsung kerasa.
Masalahnya, sekarang uangnya lagi ogah lari.
Deflasi yang dibarengi pelemahan konsumsi itu ibarat hujan gerimis yang panjang. Nggak banjir, tapi bikin lembap terus. Pelan-pelan meresap ke tulang.
Makanya, seratus ribu rupiah hari ini fungsinya naik pangkat.
Bukan lagi uang jajan, tapi alat bertahan hidup level dasar.
Seratus ribu bisa jadi:
dua kali makan
ongkos kirim barang
biaya produksi kecil
atau sekadar supaya hari ini nggak minus
Dan di titik ini, banyak orang sebenarnya bukan miskin, tapi rapuh secara finansial.
Masih bisa hidup.
Masih bisa kerja.
Tapi satu gangguan kecil saja cukup bikin goyah.
Satu order batal.
Satu minggu sepi.
Satu pengeluaran dadakan.
Dalam istilah ekonomi, ini disebut financial fragility. Dalam bahasa warung kopi: “kelihatannya aman, padahal mepet.”
Sayangnya, masyarakat kita lebih suka penjelasan moral ketimbang struktural.
Kurang nabung.
Kurang usaha.
Kurang gigih.
Padahal, kalau ekonomi lagi melambat dan konsumsi ditahan massal, sekuat apa pun individu, dampaknya tetap kena.
Jadi ketika seseorang akhirnya berkata, “boleh pinjem seratus?”, sering kali itu bukan karena malas atau manja. Itu adalah hasil dari perhitungan panjang yang gagal menemukan celah.
Ini bukan tulisan untuk membenarkan hidup dari utang.
Tapi juga bukan untuk ikut-ikutan menghakimi.
Ini cuma pengingat kecil bahwa ketika kalimat itu makin sering terdengar, mungkin yang sedang bermasalah bukan cuma individu, tapi ekosistem ekonomi tempat mereka hidup.
Seratus ribu rupiah bukan angka besar.
Tapi di masa seperti ini, ia adalah alarm kecil.
Tanda bahwa banyak orang sedang bertahan di batas tipis antara “masih jalan” dan “hampir K.O.”
Dan barangkali, sebelum sibuk menilai siapa yang salah, kita perlu jujur mengakui satu hal:
ekonomi boleh kelihatan stabil di laporan, tapi di dompet, ceritanya sering jauh lebih rumit.
Blog Archive:
Januari 2026
Tiktok ads & cara beriklan di tiktok
Investasi Dunia yang tidak pasti
Desember : 2025
Instagram itu sederhana
Bolos posting
Hidup Konsumtif Berbahaya
Produktif di Era Digital
November : 2025
Eat the Frog : cara ampuh hadapi penundaan
The Scream
Tentang Rasa Bosan
Trend Teknologi & pekerjaan 2025
Ada fase di mana kita sampai harus bilang: “boleh pinjam seratus?”
Kalau kamu sedang di titik itu, dan tidak ingin menambah beban dengan utang, ada pilihan lain.
Jika kamu punya skill—menulis, mengelola website, atau kerja digital lain—aku membuka kelas kecil. Bukan janji cepat, tapi ruang belajar pelan supaya skill bisa dipakai tanpa harus meminjam.