Di era digital, hampir semua orang terlihat sibuk. Notifikasi tidak pernah berhenti, grup chat aktif dari pagi sampai malam, dan selalu ada rasa bersalah ketika tidak membalas pesan dengan cepat. Anehnya, di tengah semua kesibukan itu, banyak orang justru merasa pekerjaannya tidak benar-benar selesai. Hari terasa penuh, tapi hasilnya samar. Di titik ini, produktivitas sering disalahartikan sebagai kemampuan untuk terus aktif, bukan kemampuan untuk bekerja dengan sadar.
Masalahnya bukan pada kurangnya alat atau teknologi. Kita punya kalender digital, aplikasi manajemen tugas, reminder, bahkan AI yang bisa membantu pekerjaan teknis. Tapi tetap saja, rasa lelah mental muncul lebih cepat daripada rasa puas atas pekerjaan yang selesai. Ini karena produktivitas di era digital tidak lagi soal kecepatan, melainkan ritme. Tanpa ritme yang jelas, pekerjaan hanya berpindah bentuk menjadi distraksi yang tampak produktif.
Banyak orang mengeluh sulit fokus, padahal sebenarnya yang terjadi adalah otak kita terus dipaksa berpindah konteks. Satu menit membuka dokumen kerja, menit berikutnya membuka media sosial, lalu kembali ke pekerjaan dengan energi yang sudah berkurang. Pola ini berulang setiap hari. Tidak heran kalau kemudian muncul keluhan, kelelahan, dan rasa jenuh yang sering kita anggap sebagai malas, padahal itu sinyal bahwa cara kerja kita tidak sehat. Topik ini sering bersinggungan dengan tulisan-tulisan reflektif tentang keluh kesah bekerja dan ketidakpastian hidup modern.
Produktivitas yang lebih manusiawi justru dimulai dari keberanian untuk membatasi. Membatasi notifikasi, membatasi jumlah tugas harian, dan membatasi ekspektasi yang tidak realistis. Di sinilah konsep kerja seperti prioritizing tasks atau mengerjakan hal terpenting terlebih dahulu menjadi relevan. Bukan karena metode itu baru, tetapi karena kita semakin lupa bahwa fokus adalah sumber daya yang terbatas. Tanpa fokus, semua teknik produktivitas hanya menjadi dekorasi.
Ada satu ilusi besar di era digital: kita merasa selalu tertinggal. Timeline bergerak cepat, orang lain terlihat progresif, produktif, dan penuh pencapaian. Di saat yang sama, kita duduk di depan layar dengan daftar tugas yang tidak berkurang. Rasa lelah ini jarang muncul karena pekerjaan terlalu berat, tapi karena tidak ada jeda untuk merasa selesai.
Ada fase di mana produktivitas tidak lagi membantu, justru membingungkan. Kita sibuk memperbaiki sistem kerja, mencoba metode baru, dan mengatur ulang jadwal, tapi tetap merasa kosong. Di titik ini, produktivitas kehilangan konteks. Ia menjadi rutinitas tanpa makna, sekadar memastikan hari terisi, bukan memastikan hidup bergerak ke arah yang diinginkan.
Produktivitas sering dipaksa menjadi solusi universal. Saat lelah, solusinya produktivitas. Saat bingung, solusinya produktivitas. Padahal, tanpa kejelasan arah, produktivitas justru mempercepat kita menuju kelelahan. Ini yang membuat banyak orang merasa bersalah saat istirahat, seolah berhenti sebentar adalah bentuk kegagalan.
Di titik ini, produktivitas seharusnya tidak berdiri sendiri. Ia perlu disandingkan dengan kesadaran diri. Mengenali kapan harus bergerak, dan kapan harus berhenti. Tanpa itu, kerja hanya berubah menjadi rutinitas mekanis yang hampa makna. Bekerja keras tidak otomatis membuat hidup terasa maju, jika tidak tahu untuk apa semua itu dilakukan.
NaikBareng memandang produktivitas sebagai alat bantu, bukan tujuan akhir. Tujuannya tetap sama: hidup yang bisa dijalani dengan lebih sadar, lebih tertata, dan tidak terasa sendirian. Karena pada akhirnya, kerja yang baik bukan yang menguras habis, tapi yang memberi ruang untuk bertumbuh
Disini, produktivitas tidak dilihat sebagai perlombaan siapa paling sibuk, melainkan bagaimana seseorang bisa tetap bertumbuh tanpa kehilangan pegangan. Kerja yang baik seharusnya memberi ruang untuk berpikir, bukan hanya bereaksi. Dan ketika ritme kerja mulai terasa lebih masuk akal, belajar skill baru pun menjadi lebih mungkin, bukan beban tambahan. Dari sini, produktivitas kembali ke makna dasarnya: membantu hidup berjalan lebih rapi, bukan lebih bising.
Jika kamu merasa lelah meski tidak sedang melakukan pekerjaan berat, mungkin yang perlu diperbaiki bukan semangatmu, tapi cara kerjamu. Produktif bukan berarti melakukan lebih banyak hal, melainkan melakukan hal yang tepat, di waktu yang tepat, dengan energi yang cukup. Sisanya, biarlah pelan. Dunia digital sudah cukup cepat tanpa kita harus terus mengejarnya.
Baca juga: eat the frog buat atasi tunda kerja
Blog Archive:
Desember : 2025
Instagram itu sederhana
November : 2025
Eat the Frog : cara ampuh hadapi penundaan
The Scream
Tentang Rasa Bosan
Trend Teknologi & pekerjaan 2025
Oktober : 2025
Tentang Softbank
10 skill yang paling dicari di Indonesia
Putus Asa, dan cara atasi
Uncertainty : tentang ketidakpastian
Internet ketika magang ke Jepang
Alasan perlu belajar instagram Marketing
Otak canggih tapi jiwa reptil