Kapan Harus Bertahan, Kapan Harus Berhenti (Belajar Membaca “Dip” dari Kerja dan Usaha)
Kapan Harus Bertahan, Kapan Harus Berhenti (Belajar Membaca “Dip” dari Kerja dan Usaha)
Budaya kerja kita terlalu sering menyederhanakan hidup menjadi satu nasihat: jangan menyerah. Kalimat itu terdengar kuat, heroik, dan penuh semangat. Tapi dalam praktiknya, ia sering datang tanpa konteks. Seolah semua orang punya modal yang sama, waktu yang sama, dan ruang gagal yang sama luasnya. Padahal kenyataan hidup, terutama bagi kelas pekerja dan pelaku usaha kecil, jauh lebih rumit dari sekadar bertahan atau menyerah.
Aku sendiri sering bertanya-tanya, apakah aku termasuk orang yang setengah-setengah. Saat usaha mulai naik, rasanya menyenangkan. Tapi begitu grafik turun, sepi datang, dan biaya terus berjalan, pikiran mulai ke mana-mana. Muncul dorongan untuk mencari jalan lain, membuka usaha baru, atau setidaknya mengalihkan fokus. Akhirnya, usaha yang sedang dijalani terasa terbengkalai, lalu ditutup dengan perasaan campur aduk: lega, sedih, dan sedikit malu.
Pertanyaan yang sering muncul kemudian adalah pertanyaan yang sama yang mungkin juga pernah muncul di kepala banyak orang: apakah aku tidak berbakat di satu bidang? Atau sebenarnya aku hanya kurang yakin dan terlalu cepat berpindah?
Dalam narasi umum, berhenti hampir selalu ditempatkan sebagai kegagalan moral. Seolah ada karakter cacat pada orang yang memilih menutup usaha atau mengganti arah. Kita diajari untuk mengagungkan konsistensi, meski jarang diajak membicarakan biaya di balik konsistensi itu sendiri. Biaya mental, biaya finansial, dan biaya hidup yang nyata.
Aku pernah berada di banyak jenis usaha. Kopi, pakaian dan aksesoris, konter HP, sampai berbagai UMKM dari kripik hingga film. Polanya sering mirip. Di awal ada harapan, lalu fase berjalan, kemudian datang masa sepi. Operasional tetap menuntut dibayar, sementara pemasukan makin tidak pasti. Pada titik tertentu, menutup usaha terasa lebih masuk akal daripada terus membiarkan kebocoran kecil yang lama-lama menjadi banjir.
Keputusan itu tidak pernah benar-benar ringan. Tapi sering kali, ia juga bukan keputusan impulsif. Ia lahir dari perhitungan sederhana: bertahan berarti biaya makin bengkak, berhenti berarti kehilangan sesuatu yang sudah dibangun. Di sinilah budaya “pantang menyerah” sering terasa terlalu jauh dari realita. Nasihat itu tidak hidup bersama kita ketika harus membayar sewa, listrik, bahan baku, atau cicilan.
Seth Godin, dalam bukunya The Dip, menawarkan cara pandang yang lebih jujur. Ia tidak menyuruh semua orang untuk bertahan mati-matian. Sebaliknya, ia membedakan antara fase sulit yang wajar dan jalan yang memang buntu. Ada masa dalam setiap usaha ketika hasil tidak sebanding dengan tenaga. Itu yang ia sebut sebagai Dip. Fase ini memang menyakitkan, membosankan, dan sering membuat ragu.
Namun, tidak semua penurunan adalah Dip. Ada juga kondisi ketika semakin diteruskan justru semakin merugikan. Jalan yang terlihat seperti perjuangan, tapi sebenarnya mengarah ke jurang. Dalam konteks ini, berhenti bukanlah kelemahan, melainkan kemampuan membaca keadaan.
Masalahnya, banyak orang tidak pernah diajari membedakan keduanya. Kita terlalu cepat menempelkan label “kurang gigih” pada siapa pun yang berhenti. Padahal, dalam dunia usaha kecil, bertahan tanpa batas sering kali bukan tanda keberanian, tapi tanda tidak punya pilihan lain atau terjebak gengsi.
Pengalaman pribadiku memperlihatkan hal itu dengan jelas. Beberapa usaha yang kututup bukan sedang berada di ambang lonjakan besar, melainkan di fase sepi yang berkepanjangan, ketika pasar tidak bergerak dan biaya tidak bisa ditekan lagi. Jika itu disebut Dip, maka Dip itu terlalu dalam dan terlalu mahal untuk dilalui dengan modal terbatas.
Menariknya, usaha yang justru bertahan sampai sekarang adalah usaha digital. Dimulai sejak pandemi, saat semua orang mendadak beralih ke layar. Waktu itu, digital terasa seperti penyelamat. Biaya relatif lebih ringan, pasar lebih luas, dan fleksibilitas lebih tinggi. Tiga tahun berjalan, usaha ini masih menghidupi, meski tidak selalu mulus.
Tapi digital pun tidak sakral. Hype berlalu. Banyak yang dulu mengaku startup, memamerkan omzet harian, dan berbicara seolah sudah menaklukkan masa depan, kini menghilang tanpa kabar. Bukan aku saja yang keok oleh perubahan. Banyak yang lebih besar, lebih vokal, dan lebih percaya diri justru tenggelam lebih dulu.
Pengalaman ini mengajarkan satu hal penting: bertahan hidup jauh lebih penting daripada terlihat hebat. Konsistensi yang dipuja-puja sering kali adalah konsistensi dari posisi yang aman. Sementara bagi banyak orang, berhenti di waktu yang tepat justru memungkinkan mereka tetap berjalan, meski jalannya berbelok.
Budaya “pantang menyerah” sering lupa satu hal mendasar: tidak semua orang memulai dari garis start yang sama. Tidak semua orang punya bantalan untuk jatuh berkali-kali. Dalam kondisi seperti itu, memilih berhenti bisa jadi bukan tanda menyerah, tapi cara paling rasional untuk menjaga diri agar tidak hancur.
Melihat ke belakang, mungkin masalahnya bukan aku tidak berbakat, juga bukan semata-mata kurang yakin. Mungkin yang dulu belum kupunya adalah kerangka untuk membaca fase. Kapan sebuah usaha layak diperjuangkan sampai melewati masa sulit, dan kapan ia sebaiknya dilepas agar tidak menjadi beban berkepanjangan.
Seth Godin menekankan pentingnya keputusan sadar. Keputusan untuk bertahan atau berhenti seharusnya diambil dengan kepala dingin, bukan semata dorongan emosi atau tekanan sosial. Ini bukan perkara siapa paling kuat, tapi siapa yang paling jujur membaca situasi.
Hidup dan kerja tidak selalu soal menaklukkan tantangan. Kadang ia soal mengakui batas. Mengakui bahwa tidak semua jalan perlu ditempuh sampai ujung. Bahwa berhenti tidak selalu berarti gagal, dan bertahan tidak selalu berarti benar.
Mungkin, kedewasaan dalam bekerja dan berusaha bukan terletak pada seberapa keras kita menolak menyerah, tapi pada seberapa jujur kita membaca fase hidup kita sendiri. Dan dalam kejujuran itu, ada martabat yang sering hilang dalam narasi sukses yang terlalu berisik.