Kenapa Tidak Semua Orang Bisa Hidup dari Digital (& Itu sepenuhnya Bukan Salahmu)
Kenapa Tidak Semua Orang Bisa Hidup dari Digital (& Itu sepenuhnya Bukan Salahmu)
Dunia digital sering datang sebagai janji. Janji tentang kebebasan waktu, kerja dari mana saja, dan peluang tanpa batas. Di banyak narasi, internet digambarkan sebagai penyelamat, tempat siapa pun bisa bertahan, asal cukup kreatif dan mau belajar. Tapi bagi banyak orang, kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ada yang sudah mencoba bertahun-tahun. Membuat konten, membangun website, belajar iklan, mengikuti perubahan algoritma. Waktu dan tenaga sudah dicurahkan, tapi hidup tetap terasa rapuh. Penghasilan tidak menentu. Arah kerja sering berubah. Dan pada akhirnya, muncul rasa bersalah yang aneh: seolah kegagalan ini murni kesalahan pribadi.
Padahal, tidak semua orang bisa hidup dari digital. Dan itu bukan aib. Apalagi dosa.
Masalahnya sering dimulai ketika dunia digital diposisikan sebagai satu-satunya jalan keluar. Seolah kerja konvensional sudah usang, dan siapa pun yang tidak “naik kelas” ke ranah digital dianggap tertinggal. Narasi ini terdengar masuk akal di permukaan, tapi mengabaikan banyak kenyataan hidup kelas pekerja.
Kerja digital membutuhkan lebih dari sekadar niat. Ia butuh waktu panjang tanpa jaminan. Butuh modal, baik uang maupun mental. Butuh kemampuan bertahan di fase sepi, saat usaha belum menghasilkan apa pun. Tidak semua orang berada di posisi yang memungkinkan untuk itu.
Banyak pekerja digital hidup pelan-pelan tergerus oleh ketidakpastian. Jam kerja tidak jelas. Otak sulit istirahat. Selalu ada dorongan untuk “lebih aktif”, “lebih konsisten”, “lebih terlihat”. Ketika hasil tidak datang, yang disalahkan hampir selalu diri sendiri.
Padahal, sistem digital memang tidak ramah untuk semua orang. Algoritma bekerja selektif. Pasar cepat jenuh. Persaingan datang dari mana saja. Tidak semua usaha bisa tumbuh hanya karena kerja keras. Ada faktor waktu, momentum, dan keberuntungan yang jarang diakui secara jujur.
Di titik ini, dunia digital bukan menyelamatkan, tapi menambah beban. Bukan karena orangnya kurang usaha, tapi karena ekspektasi yang ditanamkan terlalu tinggi.
Bagi sebagian orang, digital memang membuka jalan. Tapi bagi sebagian lainnya, ia hanya menjadi persinggahan tempat belajar sendiri maupun bareng, mencoba, lalu menyadari batas diri. Dan itu sah. Tidak semua jalan harus berujung sukses besar untuk dianggap bermakna.
Masalah muncul ketika kegagalan di dunia digital dianggap sebagai kegagalan hidup. Ketika seseorang merasa tertinggal hanya karena tidak bisa menggantungkan hidup sepenuhnya dari internet. Padahal, hidup tidak hanya diukur dari jenis pekerjaannya, tapi dari kemampuannya bertahan tanpa kehilangan diri.
Ada orang yang bekerja di balik layar. Ada yang memadukan kerja digital dengan pekerjaan lain. Ada yang memilih hidup sederhana agar tidak tergantung penuh pada penghasilan online. Semua pilihan itu valid, meski jarang dirayakan.
Dunia digital sering mempromosikan mimpi, tapi jarang membicarakan biaya. Biaya mental. Biaya waktu. Biaya gagal. Tidak semua orang punya ruang aman untuk menanggung biaya-biaya itu. Dan itu bukan kekurangan karakter.
Menyadari bahwa digital tidak selalu menyelamatkan justru bisa menjadi titik balik yang lebih jujur. Bukan untuk menyerah, tapi untuk berhenti menyiksa diri dengan standar yang tidak relevan. Kerja boleh berubah bentuk. Arah boleh disesuaikan. Hidup tidak harus mengikuti narasi yang sedang laku.
Internet hanyalah alat. Ia bisa membantu, tapi tidak wajib menjadi tumpuan utama. Menjadikannya satu-satunya harapan justru berisiko membuat hidup makin rapuh.
Tidak semua orang bisa hidup dari digital. Dan itu bukan salahmu. Yang lebih penting adalah menemukan cara bekerja yang masih memungkinkan untuk dijalani secara mental, fisik, dan ekonomi tanpa harus terus merasa gagal karena tidak cocok dengan satu sistem.
Kadang, bertahan dengan sadar jauh lebih berharga daripada memaksa sukses di tempat yang tidak ramah.