Ketika Sibuk Setiap Hari Tapi Hidup Terasa Mandek
Ketika Sibuk Setiap Hari Tapi Hidup Terasa Mandek
Ada fase hidup di mana hari terasa penuh, tapi isinya kosong. Bangun pagi dengan daftar tugas, menutup malam dengan rasa lelah, lalu mengulang hal yang sama keesokan harinya. Kalender rapi, notifikasi ramai, pekerjaan jalan. Namun di balik semua kesibukan itu, muncul perasaan yang sulit dijelaskan: hidup seperti tidak bergerak ke mana-mana.
Produktivitas sering dianggap jawaban dari kegelisahan hidup modern. Selama sibuk, kita merasa aman. Selama ada yang dikerjakan, kita tidak perlu berhadapan dengan kekosongan. Tapi semakin hari, sibuk justru bisa menjadi cara paling halus untuk menunda pertanyaan yang lebih penting: apakah semua ini membawa kita ke hidup yang ingin dijalani?
Tidak semua kesibukan lahir dari tujuan. Sebagian hanya hasil dari tuntutan yang datang bertubi-tubi, tanpa sempat disaring. Kita mengerjakan banyak hal, bukan karena semuanya penting, tapi karena takut tertinggal jika berhenti.
Di era digital, sibuk sering dipamerkan sebagai prestasi. Kalender padat, jam kerja panjang, dan multitasking dianggap tanda orang yang “serius menjalani hidup”. Di media sosial, produktivitas tampil sebagai identitas. Semakin sibuk seseorang, semakin ia terlihat bernilai.
Masalahnya, produktif tidak selalu berarti bermakna. Ada kerja yang menghabiskan waktu tanpa memberi rasa arah. Ada rutinitas yang dijalani otomatis, bukan dengan kesadaran. Hari demi hari berlalu, tapi tidak ada yang benar-benar berubah, selain kelelahan yang makin menumpuk.
Kesibukan seperti ini sering tidak terasa berbahaya di awal. Justru terasa aman. Kita tidak punya waktu untuk merasa gagal, karena selalu ada yang harus dikerjakan. Namun pelan-pelan, produktivitas berubah fungsi. Ia bukan lagi alat untuk membangun hidup, tapi pelarian dari rasa hampa.
Banyak orang takut berhenti bukan karena malas, tapi karena khawatir akan menyadari bahwa yang dijalani selama ini tidak membawa ke mana pun. Sibuk menjadi peredam kecemasan, bukan jalan keluar.
Hidup yang terasa mandek bukan selalu tanda kurang usaha. Justru sering dialami oleh mereka yang terlalu patuh pada sistem. Terlalu rapi menjalankan peran. Terlalu disiplin mengejar target yang bukan miliknya sendiri.
Kita bergerak cepat, tapi tidak pernah benar-benar memilih. Agenda dipenuhi oleh kebutuhan orang lain, algoritma, dan standar sosial yang berubah-ubah. Akhirnya, hidup terasa seperti sedang berjalan di treadmill: banyak energi keluar, tapi posisi tidak berubah.
Di titik ini, rasa kosong bukan sesuatu yang harus dilawan dengan lebih banyak aktivitas. Justru ia sinyal bahwa ada yang perlu ditinjau ulang. Bukan soal menambah kesibukan, tapi mengurangi yang tidak perlu. Bukan tentang bekerja lebih keras, tapi bekerja dengan arah yang lebih jujur.
Tidak semua fase hidup harus produktif secara ekonomi. Ada masa di mana hidup hanya perlu stabil. Ada waktu di mana bertahan adalah capaian itu sendiri. Menganggap semua fase harus menghasilkan “kemajuan” hanya akan membuat diri terus merasa kurang.
Produktivitas tanpa makna akan selalu berakhir pada kelelahan. Sementara hidup yang bermakna sering kali berjalan lebih pelan, lebih sunyi, dan tidak selalu terlihat sukses dari luar.
Mengakui bahwa hidup terasa mandek bukan kelemahan. Itu bentuk kesadaran. Kesadaran bahwa sibuk saja tidak cukup. Bahwa hidup bukan daftar tugas yang harus dihabiskan, tapi ruang yang perlu dijalani dengan sadar.
Tidak ada solusi instan untuk rasa kosong ini. Tapi berhenti sejenak, memberi jarak, dan bertanya ulang arah hidup adalah langkah yang lebih manusiawi daripada terus memaksa diri produktif.
Kadang, yang kita butuhkan bukan jadwal baru, tapi keberanian untuk mengosongkan sebagian yang sudah terlalu penuh.