Shokunin : Prinsip & Mentalitas Masyarakat Jepang ketika Melakukan Suatu Pekerjaan
Shokunin : Prinsip & Mentalitas Masyarakat Jepang ketika Melakukan Suatu Pekerjaan
Aku belakangan menyadari satu hal aneh tentang diriku sendiri:
aku justru lebih terpikat pada cerita tentang Slice of life (SOL), bukan pada kisah kepahlawanan, melawan monster, atau raja iblis, peperangan antar galaxy dengan robot canggih, atau ambisi besar yang biasanya mendominasi narasi populer seperti CEO yang menyamar menjadi tukang sapu.
Pemicu perasaan itu datang dari sebuah anime yang berjudul Kirei ni Shitemoraemasu ka (Wash It All Away).
Anime ini bukan tentang bukan tentang romansa yang dramatis, atau komedi gadis-gadis ala asobi asobase atau nichijou, atau cerita sedih yang belakangan ini rame diperbincangkan "5centimeter per second karya Makoto Shinkai. Seorang author anime ini hanya menceritakan tentang seseorang yang sibuk bekerja.
Kirei ni Shitemoraemasu ka merupakan adaptasi anime slice-of-life dari manga karya Mitsuru Hattori, yang tayang perdana pada 5 Januari 2026. Ceritanya mengikuti kehidupan sehari-hari Wakana Kinme, seorang perempuan yang menjalankan layanan laundry unik di kota resor onsen Atami.
Setiap hari, ia mencuci pakaian orang lain dimana pekerjaan yang, jika dilihat sepintas, nyaris tak punya nilai atau kesan heroik.
Namun justru di situlah letak kekuatannya.
Wakana Kinme tidak digambarkan sebagai sosok ambisius yang mengejar pengakuan. Ia tidak berlomba-lomba menjadi yang terbaik, tidak juga menargetkan ekspansi usaha besar-besaran. Yang ia lakukan hanyalah satu hal: mencuci pakaian dengan sepenuh perhatian atau bahasa kitanya bersungguh-sungguh dengan keahlian yang semakin terasah.
Ia memahami jenis kain, sejarah noda, dan bahkan emosi yang melekat pada pakaian-pakaian itu. Setiap helai baju diperlakukan bukan sebagai objek, melainkan sebagai titipan.
Menonton anime ini membuatku teringat pada konsep shokunin dalam budaya kerja Jepang mentalitas pengrajin yang memandang pekerjaan sebagai bentuk tanggung jawab personal, bukan sekadar alat untuk mencapai hasil akhir.
Seorang shokunin tidak bekerja demi pujian, tidak pula demi validasi sosial. Ia bekerja karena pekerjaan itu layak dikerjakan dengan baik.
Yang menarik, mentalitas ini terlihat bertolak belakang dengan budaya kerja modern yang sering kita temui, di mana HASIL menjadi segalanya.
Angka, target, capaian, dan performa sering kali lebih penting daripada proses.
Kerja menjadi sesuatu yang harus cepat selesai, harus terlihat produktif, harus bisa dipamerkan.
Dalam shokunin, logika itu dibalik.
Fokusnya bukan pada seberapa besar hasilnya, melainkan seberapa jujur seseorang hadir dalam pekerjaannya.
Wakana Kinme tidak pernah terlihat terburu-buru. Ia telaten, pelan, dan penuh kesadaran. Namun justru dari ketenangan itu muncul kualitas. Hasil kerjanya bukan produk instan, melainkan konsekuensi alami dari proses yang dijaga dengan serius.
Di titik ini, aku merasa tersentuh bukan karena ceritanya dramatis, tapi karena ia terasa dekat dengan kegelisahanku sendiri.
Di tengah kondisi hidup yang sering terasa berat, ketika kerja keras tidak selalu dibalas dengan hasil yang sepadan, cerita seperti ini menawarkan sudut pandang lain:
bahwa mungkin makna kerja tidak selalu terletak pada apa yang kita dapatkan, tetapi pada bagaimana kita menjalaninya.
Anime ini seolah berbisik bahwa bekerja tidak harus selalu menjadi panggung.
Ada pekerjaan yang layak dijalani meski tidak dilihat siapa pun.
Ada nilai dalam ketekunan yang sunyi, dalam rutinitas yang konsisten, dalam usaha yang tidak viral.
Mentalitas shokunin mengajarkan bahwa hasil seharusnya datang sebagai efek samping, bukan sebagai obsesi.
Ketika proses dihormati, kualitas akan mengikuti.
Dan ketika kualitas dijaga, pengakuan jika memang datang tidak lagi menjadi kebutuhan utama.
Mungkin itulah alasan kenapa cerita tentang laundry kecil di kota onsen bisa terasa begitu bermakna.
Ia tidak menjanjikan kesuksesan besar, tapi menawarkan sesuatu yang lebih langka: ketenangan dalam bekerja, daripada putus asa ketika target tidak tercapai.
Di dunia yang semakin bising oleh tuntutan hasil, mentalitas seperti ini terasa hampir asing. Namun justru karena itu, ia terasa relevan.
Bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa terlalu terobsesi pada hasil, bukanlah bentuk kemunduran.
Ia bisa menjadi cara bertahan dan mungkin, cara paling manusiawi untuk terus melangkah.
Yuk melangkah bareng!